TUTUR KATA PENGEMIS FATIHAH

TUTUR KATA PENGEMIS FATIHAH
Kami mohon keikhlasannya bagi siapapun yang pernah menggendong putra kami, bermain dengan putra kami, di ompoli oleh putra kami, menyuapi makan putra kami dan siapapun yang pernah memberikan kasih sayang kepada Isa putra kami.... maka kami mohon keridhoan dan keikhlasannya dalam semua hal tersebut....
kami tak mampu membalas.. kami hanya bisa berdoa dan berdoa....
kami akan selalu menjadi pengemis fatihah untuk putra kami `ISA an NAQIEB`..

Rabu, 24 November 2010

DONGENG RAJA DAN ISTANA BAU

Sebuah kisah klasik tentang seorang raja yang frustrasi dengan istananya yang bau. Semua yang ada di dalamnya berbau busuk. Sampai-sampai sang raja tidak tahu lagi bagaimana cara mengatasinya.
Hal pertama yang selalu ingin didengar oleh sang raja ketika dia bangun pagi adalah tentang kuda kesayangannya. Maka, sang petugas perawatan kuda selalu menjadi orang pertama yang menghadap yang mulia. Agar tidak terlambat memberitahu sang raja tentang kondisi kudanya. Setiap pagi dia duduk bersimpuh disamping ranjang sang raja untuk menantinya terbangun.
Pagi itu, sang perawat kuda bersiap-siap hendak memberikan laporan ketika sang raja menggeliat. Namun, sebelum dia sempat berkata, sang raja keburu membentaknya. “Hey, tubuhmu bau kotoran kuda. Mandi yang bersih sebelum menemuiku.” Lalu orang itu diusirnya.
Raja bergegas ke ruang makan untuk sarapan. Ketika sang raja hendak makan, dia mencium bau busuk itu lagi. Dan dengan rasa penasaran dia mencari-cari, dimana sumber bau itu berada. “Oh, ternyata dari makanan ini!” begitu teriaknya hingga para koki istana panik karenanya.
Raja kemudian bergegas menemui sang ratu, sambil mengumpat kepada semua orang bau yang ditemuinya diseluruh istana kerajaan. “Lebih baik aku menghabiskan waktu dengan ratuku saja…” pikirnya. Namun, sang raja dilanda kecewa ketika ternyata ratu yang sangat dicintainya itupun tubuhnya mengeluarkan bau. Sehingga sadarlah dia bahwa semua orang diistana menjadi bau. Seketika itu pula, ia memerintahkan agar semua orang mandi sebersih-bersihnya.
Namun, setelah tujuh hari tujuh malam mereka mandi, ternyata menurut sang raja, mereka masih bau juga. Mereka terjangkit suatu penyakit: Yaitu penyakit bau! Maka sejak saat itu, raja memanggil semua tabib yang ada di seluruh pelosok kerajaan untuk mengobati penyakit aneh itu.
Seluruh tabib sudah berusaha mengerahkan segenap kemampuannya. Namun, tak satupun berhasil menghilangkan bau yang tetap menghantui sang raja. Pada malam harinya, sang raja bermimpi. Dan dalam mimpinya dia mendapatkan nasihat bahwa penyakit bau itu akan berakhir jika sang raja bersedia mencukur kumisnya. Meskipun dengan berat hati, keesokan harinya sang raja merelakan kumisnya untuk dicukur hingga habis.
Ajaib sekali, sejak saat itu tiba-tiba saja bau diistana serta merta menghilang. Raja tidak lagi mencium bau itu. Ditengah kegembiraan itu, hati sang raja bertanya-tanya, mengapa bau itu bisa diselesaikan dengan cara yang sangat aneh: Mencukur kumis.
Saking penasarannya, yang mulia raja meminta tukang cukur untuk menyerahkan potongan kumis itu kepadanya. Dan ketika sang raja memeriksa sisa-sisa kumis itu, tahulah dia apa yang menyebabkan bau diseluruh istana itu……
Hikmah dibalik cerita ini tentunya dapat kita petik bahwa ketika ada sesuatu yang tidak beres, kita cenderung untuk mencari-cari kesalahan orang lain, padahal tanpa kita sadari, kita sendirilah akar masalahnya.
Sebelum memaksakan diri melihat semut diseberang lautan, menyadari keberadaan gajah dipelupuk mata memang perlu didahulukan

Tidak ada komentar:

Posting Komentar